Hati-Hati Saat Maaf-maafan :)

1 Aug 2013

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ada nih cerita seru waktu maaf-maafan bulan Ramadhan kemaren.

Jadi ceritanya saya baru ngeh alasan seorang cewek yang sudah ‘gede’ dilarang untuk bersalaman dengan seorang cowok yang bukan mahromnya. Karena baru ngeh beberapa hari sebelum bulan Ramadhan tahun kemaren, jadinya saya baru mempraktekkannya pas Idul Fitri tahun kemaren juga. Ngerasa aneh sih, yang lain salam-salaman seperti biasa ke anggota keluarga sendiri, saudara ataupun tetangga. Sedangkan saya milih-milih. Ke sepupu masih jabat tangan langsung, tapi ke ipar udah nggak berani lagi.

Saya tinggal di sebuah desa yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Bahkan, setau saya tidak satupun yang beragama selain Islam. Hanya saja, kami sekedar ber-Islam KTP. Tidak semua, tapi sebagian besar begitu. Tidak semua aturan Islam diterapkan disini. Misalnya, dalam hal berpakaian masih banyak ABG yang sudah balligh tidak menutup auratnya dengan benar (tidak berkerudung dll) meskipun tidak ’seseram’ pakaian orang-orang yang tinggal di kota besar. Orang dewasa juga masih belum paham batas aurat mereka. Ibu-ibu masih memakai sarung yang hanya menutupi dada hingga betis ketika pergi ke kamar mandi umum untuk mandi. Bahkan ada juga yang tidak malu mandi dengan bertelanjang di sungai yang terletak di pinggir jalan. Dalam hal mengaji, tidak semua menyempatkan diri untuk mengaji setiap hari. Sekalipun mereka termasuk orang baik-baik (tidak mabuk-mabukan, tidak merokok, dll). Tentang aurat saja belum paham. Meskipun paham mungkin karena kebiasaan yang seakan mengharuskan kami untuk berjabat tangan ketika bermaaf-maafan ataupun waktu bertamu meski dengan orang yang bukan mahrom.

Alhamdulillah… saya diberi kesempatan untuk menikmati pendidikan di sebuah kampus di kota dan dipertemukan dengan beberapa muslimah keren. Mereka yang mengajarkan sayasalah satunyauntuk mulai menghindari bersalaman dengan orang yang bukan mahrom.

Waktu di rumah nenek, ketika saya hanya menyambut tangan seorang ipar dengan kedua tangan yang berpadu di depan dada, Buk Dhe bertanya, Kenapa gak mau salaman sama iparmu? Ikut ajaran apa kamu sekarang? Begitulah pertanyaan Buk Dhe yang membuat saya langsung merasa tidak nyaman. Padahal, saya hanya tidak mau berjabat tangan saja. Tapi, pertanyaannya sudah seperti itu. Bagaimana jika semua aturan Islam saya terapkan? Begitu pikir saya waktu itu. Alhamdulillah… Ibu mambantu menjawab, Dyah memang begitu ke semua cowok. Bukan hanya ke iparnya saja. Setidaknya jawaban Ibu bisa lebih membuat hati saya tenang.

Ini pengalaman saya tentang berjabat tangan dengan cowok waktu bermaaf-maafan. Di lingkungan seperti ini, saya seakan dianggap ‘tidak bersahabat’ ketika menerapkan aturan tidak boleh bersentuhan dengan yang bukan mahrom dan dituduh mengikuti aliran yang ‘aneh’. Padahal, Rasulullah telah mencontohkannya kepada kita:

Berkata Ibnu Abdil Barr dlm At-Tamhid 12/243 : Dalam perkataan beliau Aku tak pernah berjabat tangan dgn wanita ada dalil tentang tak bolehnya seorang lelaki bersentuhan dgn perempuan yang tak halal baginya (bukan mahramnya-pent.) & menyentuh tangannya & berjabat tangan dengannya.

Dan ancamannya pun keras:

Sekiranya kepala salah seorang daripada kamu ditusuk dengan jarum besi, itu adalah lebih baik bagi kamu daripada kamu menyentuh wanita yang tidak halal bagi kamu. (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Mujam al-Kabir, 20/211-212, no. 486 & 487)

Tetap semangat buat yang dianggap ‘aneh’ ketika menerapkan aturan Islam yang tidak biasa dilakukan oleh masyarakat sekitar, karena insyaAllah akan menjadi catatan pahala tersendiri bagi kita. Cheers ~


TAGS ngaBLOGburit Maaf-maafan Lebaran Bukan Mahrom


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post