Sahabat Saya Mengajarkan . . .

28 Oct 2012

Assalamualaikum :)
Dalam keadaan yang kurang tepat sebenarnya untuk menulis, karena jurnal praktikum kimia belum selesai digarap, saya sungguh ingin menulis tentang seorang sahabat yang luar biasa menurut saya. Jika Anda bertanya kepada orang lain selain saya, mungkin saja dia akan mengatakan bahwa sahabat saya tersebut adalah orang biasa, tapi dia LUAR BIASA menurut saya.
www.wallcoo.com

Baru beberapa menit yang lalu saya berkunjung ke kosan seorang sahabat yang LUAR BIASA ini. Sebenarnya niat saya kesana adalah mengambil laptop yang kemarin saya titipkan dan bertanya tentang skema kerja praktikum. Alhamdulillah… Allah Maha Baiiiiiiikkk… saya mendapatkan pelajaran yang jelas sangat berharga dari sahabat baik saya ini. Sebelumnya dia pernah curhat bahwa dia sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dia memang dari keluarga yang (mungkin) kurang mampu. Tapi, dia selalu bersyukur. Tidak seperti saya. Setelah saya bertanya, dia bilang bahwa dia hanya punya uang Rp. 10.000,-. Itupun untuk pulang hari Jum’at, sedangkan sekarang masih hari selasa. Sebenarnya dia punya uang Rp. 16.000,-. Jadi uang yang bisa dia gunakan untuk makan adalah Rp. 6.000,-. Dan dia berencana menggunakan uang tersebut untuk makan selama dua hari. Itu artinya Rp.3.000,- untuk sehari. Entahlah… apa yang bisa dia beli dengan uang segitu. Sebagai seorang sahabat yang baik (yeah…) saya menawarkan untuk mentraktirkan makan. Tapi, dia tidak mau. Sudah saya paksa, dia tetap dengan pendiriannya. Saya tanya alasannya, dia bilang masih mau mengarang jawabannya. -_____-
Sayang sekali yaa dia tidak mau mengatakan alasannya. Ketika saya pamit pulang, dia sedang ingin membaca buku Merry Riana (Mimpi Sejuta Dolar) yang ceritanya sama dengan keadaannya saat ini. Sebenarnya ingin menangis saat itu, tapi karena gengsi jadinya saya tahan saja. Meski sudah sampai di kosan, saya tetap tidak menangis. Saya tahan saja.
Lalu apa pelajaran yang saya dapatkan dari dia (sahabat saya)?
  1. Tidak mau merepotkan orang lain (hal ini sering saya lakukan).
Itu saja sih pelajarannya, tapi itu benar-benar memalukan diri saya yang selaluuuuuuu saja merepotkan orang lain. Rasanya semua orang sudah saya buat repot.
Saya adalah orang yang sering tergantung kepada orang lain. Saya tidak mau repot sendiri. Harus ada orang lain yang repot bersama saya, meskipun itu bukan urusannya. Sedangkan sahabat saya itu, sungguh dia tidak mau merepotkan saya. Padahal sudah saya tawarkan untuk berhutang dulu, karena jelas dia tidak mau jika ditraktir. Tapi, tetap saja dia tidak mau. Baiklah! Saya sudah cukup malu. Jadi saya akhiri saya tulisan ini. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum :D


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post