Jul 30

ae91fd18b4bd50eeabc8cd59d7ffc2d3_kartun-anak-sdPendidik tugasnya mendidik. Memang tugas tersebut lekat sekali dengan guru. Tapi, sebenarnya bukan hanya guru yang bertugas untuk mendidik. Orang tua juga bisa disebut sebagai pendidik. Karena salah satu tugas orang tua adalah mendidik anak.

Menurut pemahaman saya, mendidik berarti menjadikan seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika tidak terjadi perubahan yang baik pada peserta didik, maka pendidikan dianggap gagal. Misalnya, mendidik perilaku. Sebelumnya seorang anak melakukan hal sesuai dengan keinginan hatinya. Nah setelah mendapat pendidikan perilaku, anak tersebut mengerti lalu menghindari perilaku yang tidak baik. Jika perilakunya tidak berubah, berarti anak tersebut harus mengulang pendidikan perilaku tersebut.

Mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik. Begitu kata Anies Baswedan, ketua Indonesia Mengajar. Itu artinya setiap dari kita berdosa jika ada anak Indonesia yang tidak terdidik. Itu juga berarti guru bukan satu-satunya profesi yang bertugas untuk mendidik anak Indonesia.

Orang Tua sebagai Pendidik

Lingkungan pendidikan pertama yang dialami oleh seorang anak adalah keluarga. Pendidikan yang ditawarkan dalam lingkungan ini adalah pendidikan informal. Banyak hal yang dipelajari oleh anak melalui lingkungan ini, misalnya agama, budi pekerti, etika, sopan santun, moral dan sosialisasi.

Setiap orang tua adalah pendidik bagi anak mereka. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. Jika pendidikan tersebut berhasil, maka anak mereka akan tumbuh menjadi anak yang baik dan membanggakan orang tua. Jika tidak, maka bukan salah si anak. Namun orang tua yang perlu mengevaluasi dirinya sendiri. Mungkin ada yang salah dari cara mendidik mereka.

Karena merupakan lingkungan pendidikan pertama, maka pendidikan yang didapatkan oleh anak merupakan bekal untuk menghadapi lingkungan pendidikan selanjutnya, yaitu masyarakat. Jika bekal itu cukup, maka anak akan diterima dengan baik oleh masyarakat. Jika tidak, mungkin akan ada penolakan kecil dari masyarakat. Misalnya, anak tersebut akan dimarahi atau diingatkan oleh masyarakat yang merasa terganggu olehnya.

Dampak ketidakberhasilan orang tua dalam mendidik anak akan kembali kepada keluarga itu sendiri. Jika anak melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan terhadap masyarakat, maka yang akan mendapatkan peringatan dari masyarakat adalah keluarga, bukan hanya si anak saja. Anak hanya korban dari ketidakberhasilan tersebut. Orang tualah yang perlu belajar lagi untuk mendidik anaknya.

Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya cenderung melalaikan tugasnya, yaitu mendidik anaknya sendiri. Jika anak melakukan kesalahan yang menyebabkan adanya pengaduan masyarakat kepada orang tuanya, maka orang tua tersebut akan menasehati atau bahkan memarahi anaknya. Orang tua ini perlu diberitahu, bahwa hal tersebut terjadi karena kelalaiannya sendiri. Memang tidak salah jika orang tua menasehati anak, tapi mereka juga harus sadar diri. Bahwa hal tersebut terjadi karena kesalahan orang tua, bukan salah anak. Sekali lagi, anak hanya korban ketidakberhasilan pendidikan dari orang tua.

Apapun profesinya, orang tua adalah guru bagi anaknya sendiri.

Guru sebagai Pendidik

Salah satu lembaga pendidikan adalah sekolah, dan disanalah tempat seorang guru bekerja. Mungkin itu salah satu alasan kata pendidik lekat sekali dengan guru.

Jika guru disebut tenaga pendidik, maka murid adalah peserta didik. Sebagai peserta didik, murid memiliki hak untuk mendapat pendidikan yang baik dari seorang guru. Dan hak tersebut harus didapatkan oleh anak dengan sebaik-baiknya.

Pendidikan yang berkualitas hanya akan didapatkan dari guru yang berkualitas. Lalu bagaimana kriteria guru yang berkualitas tersebut? Seorang guru yang berkualitas tinggi adalah yang guru yang berkompeten dibidangnya dan selalu mengutamakan profesionalitas.

Guru bertugas mendidik anak agar pandai dari segala aspek, baik spiritual, emosional dan intelektual.

Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika.

Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak.

Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri.

Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN.

Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal.

Sudah jelas, menjadi guru tidaklah mudah. Ketika gaji tidak mampu untuk membayar semua jasanya, maka pengabdian kepada bangsa dan negara menjadi alasan kuat seorang guru untuk tetap memberikan pendidikan terbaik bagi anak bangsa.

Masyarakat sebagai Pendidik

Masyarakat adalah lingkungan yang besar. Bahkan lebih besar dari lingkungan keluarga dan sekolah. Pengaruhnya pun besar. Masyarakat yang baik akan memberi pengaruh yang baik, begitu sebaliknya. Tetapi, sayangnya hampir tidak ada masyarakat yang baik saja atau buruk saja, semuanya bercampur menjadi satu. Ya, masyarakat memang kompleks.

Salah satu hal yang didapat oleh anak dari lingkungan keluarganya adalah pendidikan membedakan yang baik dan buruk. Jika materinya dapat diserap anak dengan baik, maka akan kecil kemungkinan si anak mengambil sisi buruk dari masyarakat. Dan begitu sebaliknya.

Dalam masyarakat, anak akan bertemu dengan berbagai macam orang. Setiap orang tersebut memiliki sisi positif dan negatif. Orang tua harus berhasil mendidik anak agar mempunyai kemampuan-yang saya sebut dengan istilah-kulturasi. Dengan kemampuan ini, diharapkan anak dapat mengambil lebih banyak sisi positif dari setiap orang yang ditemuinya.

Masyarakat adalah tempat yang tepat untuk mendidik kemampuan sosialisasi anak. Lingkungan yang besar memungkinkan anak untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang. Dalam sosialisasi tersebut, dibutuhkan budi pekerti, etika, sopan santun dan moral yang sebelumnya telah dipelajari dalam keluarga. Dalam masyarakatlah pendidikan yang telah diberikan oleh keluarga kepada anak akan terlihat tingkat keberhasilannya.

Dalam masyarakat, akan terlihat tingkat kebermanfaatan seorang anak. Karena memang salah satu tujuan diadakannya pendidikan adalah agar anak berguna bukan hanya bagi diri-sendiri dan keluarga, tapi juga untuk masyarakat. Belum sah seseorang dikatakan sukses sebelum berkontribusi bagi-minimal-masyarakat sekitarnya.

Masyarakat dan keluarga adalah lingkungan tempat anak mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan informal. Bedanya, keluarga memberi teori dasar kepada si anak, sedangkan masyarakat tempat anak mempraktekkan sekaligus mendapat materi yang lebih tinggi. Ya, memang masyarakat punya caranya sendiri dalam mendidik anak.

Sumber gambar : Google


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

12 comments so far

  1. 1 souvenir pernikahan
    2:14 pm - 7-30-2012

    Saatnya dunia pendidikan berbenah. Jangan hanya berorientasi pada hasil akhir saja. Anak lulus 100 % saat ujian nasional. Sampai menghilangkan nilai-nilai kejujuran dan ahlak yang baik. Lihatlah hasil yang diperoleh saat ini, korupsi luar biasa peningkatannya. Lalu apa ada hubungannya dengan dunia pendidikan. Pasti ada, langsung atau tidak langsung sangat berhubungan. Ujian Nasional telah menghancurkan nilai-nilai kejujuran. Anak didik lebih percaya diri kalau mendapatkan kunci jawaban, pengawas membiarkan siswa nyontek, sekolah dan pemerintah membuat sistem yang memberi peluang untuk mencontek. Pemerintah meengklaim tiap tahun selalu meningkat prestasinya. Benar meningkat, tapi semu. Karena kalau kita tahu caranya meningkatkan prestasinya pastilah miris… dan secara kwalitas hasil pendidikan apakah meningkat? Tanda tanya besar. Kita lihat apa yang terjadi di masyarakat sekarang ini….. inilah potret pendidikan saat ini.

  2. 2 achsuryadi
    7:03 am - 7-31-2012

    saya jadi teringat dengan tulisannya Nini Subini, S.Pd, “awas jangan jadi guru karbitan”

  3. 3 Arif Setiyono
    8:41 am - 8-1-2012

    ini tulisan sampean? wah suangar… keren2, lanjutkan nulisnya.. =D

  4. 4 dyahoktavia
    10:28 am - 8-1-2012

    @Mas Arif : Alhamdulillah dan InsyaAllah mas :)

  5. 5 gunsa
    11:14 am - 8-1-2012

    Disemua negara maju sistem pendidikan akan menghasilkan 3 kualitas manusia, yaitu pemimpin, profesional dan entreprenuer. Selama 67 tahun merdeka sistem Pendidikan Indonesia tidak dapat menghasilkan kualitas ini tetapi masih terus digunakan, akibatnya bangsa Indonesia tidak punya pemimpin yang dapat dipercaya, profesional yang ahli disemua bidang pekerjaandan entreprenuer yang mampu menciptakan kesempatan kerja, usaha dan investasi. Sekarang sedang dikembangkan Highspeed Learning Teaching, sistem belajar untuk diajarkan melalui proses Bermain, Belajar, Bekerja dan Berlomba untuk menghasilkan daya saing produktifitas, kualitas dan efisiensi kerja yang mempersingkat pendidikan 12 tahun menjadi 8 tahun dan langsung menghasilkan Pemimpin Profesional & Entreprenuer. Silahkan buka aplikasinya di Youtube “SMP R.Rahmat”

  6. 6 bintangtimur
    11:20 am - 8-1-2012

    Sependapat Dyah, bahwa mendidik memang tugas moral bagi setiap orang terdidik dan komponen yang satu akan melengkapi komponen lainnya.
    Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama, tentu harus meletakkan dasar pendidikan bagi anak-anaknya. Makin tinggi pendidikan orang tua, seharusnya akan makin baik pula pendidikan dasarnya, termasuk mendidik karakter dan kepribadiannya…
    ;)

  7. 7 didik
    11:44 am - 8-1-2012

    sekarang jadi lebih konsen ke dunia pendidikan ya? hehe yuk mari kita berbenah dengan mendidik diri sendiri ^^b

  8. 8 dyahoktavia
    5:01 pm - 8-1-2012

    @bintangtimur : Judul dari tulisan saya yang ini adalah kata-kata dari Anies Baswedan, ketua Indonesia Mengajar :D Terima kasih sudah mampir :)
    @didik : Lebih tepatnya menaruh perhatian lebih ke pendidikan para calon pemimpin kita mas :D Yuk mariii~~~ :)

  9. 9 ampuh
    1:50 pm - 8-2-2012

    sangat bermanfaat sekali artikelnya buat di simak, memang pendidikan itu penting bagi manusia ……..

  10. 10 dyahoktavia
    5:30 am - 8-3-2012

    @ampuh : Terima kasih :)

  11. 11 dyahoktavia
    4:08 am - 8-4-2012

    @gunsa : Wah ilmu baru nih. Terima kasih :)

  12. 12 fitria
    4:52 pm - 10-5-2012

    trmakash sngt brmanfaat, artkelny..

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Your Details

Your Comment