Jul 27

dcb00614f11326024362bab3e3076f60_indonesia-mengajar1

Untuk mempermudah diskusi, kita persempit arti pendidik menjadi guru. Nah, saya mau tanya, siapa yang mau jadi guru disini? Adakah? Kok sepi? Baiklah, tidak masalah. Saya pun dulu juga tidak berminat menjadi guru dan sampai sekarang masih ragu. Alasannya klasik, gaji kecil dan terkesan tidak keren. Ya, itu realita.

Sebelumnya saya ingin bercerita tentang cita-cita saya yang awalnya menjadi guru. Seperti anak-anak lainnya yang ingin menjadi seperti orang tuanya, waktu kecil cita-cita saya menjadi seorang guru seperti Bapak. Tapi, cita-cita itu memudar seiring berputarnya jarum jam. Setelah menjadi siswa SMP, saya tidak punya cita-cita. Hal itu berlanjut hingga SMA. Miris memang. Tidak ada cita-cita, tidak ada yang hendak diraih. Alhamdulillah, sejak menjadi mahasiswa saya memutuskan untuk bercita-cita menjadi seorang pengusaha dan penulis. Ya, bukan seorang guru. Saya tidak lagi bercita-cita menjadi seorang guru.

Hingga malam itu, tanggal 18 Juli 2012, saya dipinjami sebuah buku berjudul Indonesia Mengajar. Indonesia Mengajar adalah sebuah program peduli pendidikan yang diketuai oleh Anies Baswedan. Buku ini adalah sekumpulan cerita dari Pengajar Muda yang telah beberapa bulan menjadi guru di Sekolah Dasar (SD) yang terletak di desa-desa terpencil. Para PM (Pengajar Muda) adalah mantan mahasiswa yang berhasil lolos seleksi dan mempunyai kemampuan serta kemauan untuk mengajar anak Indonesia di daerah pelosok tersebut selama satu tahun.

Tentu banyak tantangan yang akan mereka hadapi, diantaranya adalah kesederhanaan hidup. Ya, sederhana sekali atau bahkan mungkin dibawah sederhana. Daerah terpencil identik dengan tidak tersedianya listrik, jalan yang rusak dan banyak lagi. Ada tulisan dari seorang PM yang harus berjalan dari bukit ke bukit untuk sekedar mencari air bersih, sayur, kacang panjang dan bahan makanan lain yang akan mereka masak untuk makan malam. Butuh perjuangan dan keikhlasan memang. Tapi, yang paling menantang adalah menghadapi para anak didik.

Perawakan para anak didik bermacam-macam. Ada yang pintar tapi pemalu, nakal, suka ribut, preman sekolah dan lain-lain. Tentunya para PM sudah dibekali beberapa metode mengajar yang bisa mereka gunakan untuk mengajar anak didik dengan beragam perawakan tersebut. Praktek tidak semudah teorinya. Dan itulah tantangan terbesar para PM.

Tulisan pertama dalam buku tersebut ditulis oleh seorang PM bernama Erwin Puspaningtyas Irjayanti. Menceritakan tentang seorang anak bernama Rizki yang mampu mengerjakan soal-soal Matematika kelas 4 dan 6, padahal dia masih kelas 3 SD dan sudah 4 bulan tidak masuk sekolah. 80 persen jawabannya benar. Alasan ketidakhadiran Rizki di sekolah adalah tidak ada guru. Mungkin gurunya jarang masuk atau ada alasan lain. Sayang sekali jika potensi yang ada dalam diri Rizki sampai tidak tidak terasah atau bahkan lebih parah, tidak terlihat.

Seorang guru bertugas mendidik muridnya menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Setuju? Jika tugas tersebut lalai atau dilalaikan, lalu bagaimana nasib bangsa kita? Sudah bisa ditebak, tidak akan pernah makmur. Indonesia dengan segala kekayaan alamnya membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas agar bia mengolah kekayaan tersebut untuk bangsanya sendiri, bukan untuk bangsa lain.

Ketidakhadiran Rizki di sekolah karena ketidakhadiran gurunya. Jika alasan ketidakhadiran seorang guru tersebut masuk akal, misalnya karena sakit, masih bisa dikompromi. Nah, bagaimana jika tidak? Itu berarti Indonesia telah membuang-buang uang untuk menggaji seorang guru yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Itu juga bentuk kecil dari korupsi.

Dengan datangnya seorang PM di sekolah tersebut, semoga tidak hanya murid, tapi guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut juga terinspirasi, sehingga tidak lagi melalaikan tugasnya. Karena tugas seorang guru itu penting, yaitu mendidik seorang pejuang yang akan terjun ke medan perang untuk masa depan bangsanya yang cerah.

Ada juga cerita tentang sebuah sekolah dengan rotan sebagai alat yang sering digunakan oleh seorang guru untuk mendidik anak didiknya. Tentu saja salah. Guru seharusnya mengajar, bukan menghajar. Masyarakat di daerah terpencil cenderung menganggap pendidikan itu tidak terlalu penting. Sehingga, anak didik di daerah tersebut cenderung jarang masuk sekolah. Tidak dipukul saja sudah malas untuk bersekolah. Apalagi dibayang-bayangi dengan rotan yang akan menghantam tubuh mereka jika mereka masuk hari ini. Jangan heran jika sekolah tersebut akhirnya sepi, tidak ada aktivitas belajar dan mengajar lagi seperti biasa. Untung saja tidak sampai terjadi hal seperti itu.

Hal lain yang akan terjadi jika proses belajar dan mengajar tersebut masih diselingi dengan atraksi rotan adalah ketakutan dari anak didik untuk berekspresi di kelas. Mereka cenderung menjadi lebih pendiam. Mereka tertekan. Guru memang hanya akan melayangkan rotan jika ada anak yang ribut, tidak mengerjakan tugas dan kenakalan-kenakalan lain. Tapi, hal itu juga bisa menimbulkan ketakutan berlebihan dalam diri anak didik. Sehingga, hanya suara guru yang terdengar di kelas, sedangkan murid hanya duduk manis. Jelas hal tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja. Anak didik harus aktif di kelas. Mereka butuh ruang untuk berekspresi dan guru harus menyediakan ruang tersebut. Salah satu caranya adalah tidak membuat mereka tertekan dengan ancaman akan memukul jika melakukan kenakalan-kenakalan yang biasa dilakukan oleh anak.

Selalu ada cara yang baik untuk meredam kenakalan anak didik. Salah satunya dengan memberlakukan peraturan yang telah disetujui bersama. Jika ada yang melanggar, maka akan ada hukuman yang harus dijalani oleh si pelanggar. Tentu saja bukan hukuman fisik. Misalnya, duduk di depan kelas sendirian selama jam pelajaran berlangsung. Atau hukuman lain tanpa kekerasan fisik. Itulah yang dilakukan oleh salah satu PM bernama Adhi Nugroho yang bertugas mengajar di Halmahera Selatan. Semoga yang dilakukan oleh Adhi ini bisa menyadarkan para guru penyuka rotan tersebut, sehingga tidak ada lagi kekerasan fisik di sekolah. Sekali lagi, guru itu mengajar dan bukan menghajar.

Ada lagi cerita menarik dari Sekar Arrum Nuswantari, PM Majene. Anak didiknya yang bernama Satriana berkesempatan untuk bertemu dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Boediono. Dia berhasil memenangkan kontes membuat surat yang ditujukan untuk pemimpin negeri yang diadakan oleh Sekar Arrum. Kontes tersebut diadakan karena hanya satu orang anak didik yang boleh dibawa oleh PM ke acara peresmian salah satu universitas di Majene.

Sebenarnya yang paling membuat hati terenyuh adalah bagian awal ceritanya. Saat seorang anak bernama Irfan berkata,Ah, tidak bisa, Bu. Kamu mungkin ketemu mereka, kami tidak. Kamu dekat, kami jauh. Mereka yang dimaksud adalah para pemimpin bangsa. Dalam kalimat tersebut tersirat kalimat berikut,Kami ini bukan siapa-siapa. Mereka merasa bukan siapa-siapa. Padahal, pada merekalah bangsa ini menaruh harapan besar. Mereka yang nantinya akan duduk di kursi kepemimpinan.

Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat di daerah terpencil cenderung merasa rendah diri. Mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan. Terlalu sedikit informasi untuk mengambil kesimpulan seperti itu. Tapi, itulah yang saya rasakan. Kurangnya motivasi dan persaingan membuat masyarakat desa hidup biasa-biasa saja. Bahkan tidak sedikit yang hidup tanpa harapan. Mereka tidak puya mimpi-mimpi besar. Terlalu pesimis. Kesuksesan besar seakan hanya milik orang-orang kota. Seakan merekalah (orang kota) yang akan menduduki kursi-kursi kepemimpinan itu.

Keadaan menjadi semakin parah ketika rasa pesimis itu ditularkan kepada anak-anak mereka. Mereka menjadi takut bermimpi. Merasa tidak pantas untuk bermimpi. Padahal tidak sedikit orang-orang sukses yang hanya mengandalkan mimpi. Inilah adalah tugas dari Pengajar Muda untuk menebarkan optimisme kepada anak didiknya. Tugas yang berat tapi harus dilaksanakan. Pertama, membuat mereka berani bermimpi besar. Menjadi orang yang berpengaruh bagi bangsanya sendiri, bahkan bagi dunia. Selanjutnya, membuat mereka percaya dan yakin bahwa mimpi tersebut akan terwujud. Mereka akan menjadi orang besar nantinya.

Anak cenderung mengidolakan orang yang dekat dan sering berinteraksi dengannya. Misalnya, orang tua. Dan guru adalah orang kedua yang setiap hari berinteraksi dengan anak, selain teman-temannya. Jadi, besar kemungkinannya guru akan menjadi idola anak. Sebagai idola, guru dituntut untuk selalu baik perilaku dan perkataannya. Karena seorang fans cenderung meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh idolanya. Seorang anak belum bisa benar-benar membedakan yang baik dan buruk. Jadi, apapun yang dilakukan oleh sang guru, baik atau buruk, akan ditiru oleh anak didiknya. Maka, guru harus selalu memperhatikan perkataan dan perbuatannya.

Sesuai dengan sebutannya, guru, digugu dan ditiru. Digugu atau dipatuhi. Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, seorang anak belum benar-benar bisa membedakan yang baik dan buruk. Sehingga perintah dari guru, apapun itu, akan dipatuhi oleh anak. Ditiru semua perkataan dan perilakunya. Jika guru mengucapkan kata-kata kotor, bukan tidak mungkin hal tersebut juga akan ditiru oleh anak. Jadi, seorang guru-sesuai sebutannya-harus memperbaiki diri sedemikian rupa agar benar-benar dapat digugu dan ditiru oleh anak didiknya.

Mungkin gaji seorang guru memang tidak besar. Tapi, jasanya sungguh besar bagi bangsa ini. Tugasnya sungguh mulia, yaitu mendidik para calon pemimpin. Salah sedikit akan berakibat fatal. Karena hal tersebut bukan hanya menyangkut si anak didik, tapi nasib bangsa juga. Semoga kecilnya gaji tidak mengecilkan semangat guru untuk selalu memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.

Sekarang saya hanya bisa menceritakan pengalaman dari orang lain. Semoga setelah lulus sarjana nanti saya bisa menceritakan pengalaman saya sendiri menjadi seorang Pengajar Muda. Saya ingin menjadi inspirasi bagi mereka, para calon pemimpin bangsa itu. Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. Minta doanya ya! ;)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

3 comments so far

  1. 1 didik
    5:56 pm - 7-29-2012

    Ini, hal macam ini yang seringkali gak disorot sama media. Menginspirasi kepada pemuda Indonesia untuk memajukan negerinya :)

    Tekno Muslim

  2. 2 dyahoktavia
    7:01 pm - 7-29-2012

    Iyaa yaa mas, kok aku gak kepikiran ke media massa yaa.
    Mungkin mas Didik punya kenalan jurnalis, bisa direkomendasikan tuh mas :D

  3. 3 didik
    1:21 am - 7-30-2012

    gak ada kalo kenalan nih,,ya lewat socmed saja :D

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Your Details

Your Comment