Suratmu Tentang Apa Beda Cinta dan Sayang

23 Feb 2012

Sudah seminggu aku menggenggam kenanganmu yang terakhir. Aku berhasil membaca satu kalimat diawal. Dan sepertinya aku tau apa yang kau jelaskan dalam suratmu itu. Jawaban atas sebuah pertanyaan dariku. Tak kusangka itu akan menjadi jawabanmu yang tak dapat kusanggah lagi. Hari ini, aku ingin membacanya hingga selesai. Hari ini, aku akan membacanya untukmu, Sayang.

Assalamualaikum, Sayang.

Aku berhasil menemukan jawaban atas pertanyaanmu. Aku senang. Hehe. Semoga kau pun begitu. Pasti sudah nggak sabar ya pengen tau jawabanku? Ehm…dasar sayangku ini.

Sayang. Hasil itu memang penting, tapi alangkah baiknya jika kita memperhatikan prosesnya. Karena tanpa proses, sungguh tak akan ada hasil. Hehe. Keren ya bahasaku sekarang, Sayang? Aku berharap kau tertawa, setidaknya tersenyum. Ohya…aku lupa. Kamu harus janji ya! Minimal kamu harus tersenyum waktu baca surat ini. Dilarang merengut apalagi nangis. Aku nggak suka. Oke, Sayang? Okelah. Aku percaya kamu, Sayang.

Ohya satu lagi. Kamu tau aku kan? Kamu tau aku nggak bisa bikin kata apalagi kalimat apalagi surat yang romantis, kan? Jadi, jangan ngarep. Wekkk…

Oke…gini prosesnya……….

eng…ing…eng…

Waktu kamu nanyain tentang apa bedanya cinta dan sayang, waduhhh…aku sama sekali nggak tau harus jawab apa. Pengen sebenarnya langsung jawab, tapi ya kamu tau aku, kan? Waktu nembak kamu aja aku bilangnya,Aku suka kamu bukan Aku sayang kamu apalagi Aku cinta kamu. Ngerasa ada yang ngeganjel waktu aku bilang Aku sayang kamu atau Aku cinta kamu di depan cermin. Yah…biasalah. Orang nembak perlu latihan berkali-kali, supaya nggak ditolak. Hehe. Aku nyesel, kenapa waktu itu aku nggak nyari tau penyebab keganjelan itu (nggak enak ya dibacanya, hehe, sabar, Sayang). Aku cuek aja. Aku baru mikir hal itu waktu kamu tanya apa perbedaan keduanya, sayang dan cinta. Hampir aku jawab,Sayang itu kamu. Cinta itu artis. Tapi ngeliat wajahmu yang sepertinya serius, aku nggak berani jawab kayak gitu. Takut dicubitin lagi. Atit auk, Tayang (logat anak kecil yang belum bisa jalan). Setelah berpikir cukup lama sambil nungguin kamu makan dan minum, akhirnya aku minta waktu buat mikirin jawabannya. Hehe. Tapi, kok kamu seneng ya? Padahal seharusnya kan maksa harus waktu itu jawabannya. Mungkin karena kamu ngerasa, kali ini, aku mau jawab pertanyaanmu dengan serius, nggak seperti sebelum-sebelumnya. Padahal, sebenernya aku bener-bener nggak tau harus mikir mulai dari mana, dimana dan tentang apa. Loh…hehe.. becanda, Sayang. Malem sebelum surat ini kutulis dan sebelum aku merasa benar-benar akan terlelap dalam tidurku, aku bermimpi. Bukan mimpi tentang jawaban itu. Aku mimpi kamu, Sayang. Mimpi kamu tersenyum. Sepanjang malam kamu tersenyum. Nggak ada orang lain selain akku dan kamu waktu itu. Jadi kurasa, senyummu hanya untuk aku. Aku membalas senyumanmu. Kita berbagi senyum malam itu. Sepanjang malam. Dan paginya aku seakan menemukan jawabannya. Dan entah kenapa aku berpikiran untuk menulis surat kepadamu. Aku sungguh tak berniat menjawabnya langsung di depanmu. Akhirnya kutulis juga surat ini. Dan ini jawabanku…..

Yang aku tau, aku ingin sekali membuatmu bahagia. Ingin selalu melihatmu tersenyum. Aku selalu merasa kesal setiap melihatmu sedih atau nangis. Aku merasa, sebagai pacarmu aku nggak bisa selalu membuatmu tersenyum, padahal itu tugasku. Tugasku membuatmu tersenyum. Aku tak peduli, suka, sayang atau cintakah aku terhadapmu. Bukan itu yang penting. Bukan definisi itu yang penting. Tapi, apa yang aku setelah itu. Jika aku bilang sayang, tapi akhirnya aku membuatmu sedih, itu bukan sayang. Jika aku bilang cinta, tapi akhirnya aku membuatmu menangis, itu bukan cinta. Jika aku bilang suka, tapi akhirnya kamu tersenyum dan terus tersenyum, itu adalah segalanya. Bukan lagi sayang, bukan lagi cinta. Tapi segalanya. Aku hanya tau, aku ingin selalu membuatmu bahagia. Menurutku itulah suka, sayang, cinta, dan segalanya. Bukan terletak pada apa yang aku katakan, tapi apa yang aku lakukan setelah kata-kata itu. Itu jawabanku, Sayang. Semoga kau tersenyum bahagia setelah membaca surat ini. Aku suka, sayang, dan cinta kamu Sayang. Kamu segalanya.

Selesai kubaca suratmu. Sebenarnya aku berharap kau langsung membaca surat itu untukku. Tapi, kau tak melakukannya. Aku tetap senang kok, sayang. Aku bahagia. Akhirnya kau sembuh dari penyakitmu. Tuhan, tolong jaga dia. Aku suka, sayang, dan cinta kamu juga, Sayang. Kamu segalanya.


TAGS BLOGGER BICARA CINTA


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post